Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Unik! Inilah Gambar Rumah Asli Yang Ada Pada Uang Sepuluh Ribu Rupiah

Selintas.com - Mungkin banyak masyarakat Indonesia yang belum tahu bahwa gambar yang tertera pada mata uang pecahan sepuluh ribu rupiah tersebut adalah Rumah Limas yang merupakan rumah tradisional asli daerah Palembang.
Gambar Rumah Asli Yang Ada Pada Uang Sepuluh Ribu Rupiah
Rumah Limas yang ada pada uang Rp 10.000,00

RUMAH LIMAS ini lokasinya di dalam kawasan Museum Balaputra Dewa pusat kota yang dapat ditempuh dengan kendaraan umum.

Keberadaan bangunan unik dan kuno itu selain menawarkan objek wisata kemegahan bangunan rumah adat  limas, di dalamnya juga kita dapat mengenal adat istiadat pada masa Kesultanan Palembang.

Rumah limas atau "Rumah Bari" demikian sebutan masyarakat setempat, Bari didalam bahasa Palembang bermakna lama atau kuno ini adalah merupakan salah satu peninggalan kebudayaan dari Kerajaan Sriwijaya dan mulai terkenal sebagai rumah tradisional sejak pada jaman Kesultanan Palembang yang sampai saat ini masih tetap kokoh berdiri dan terpelihara dengan baik di kawasan Museum Balaputra Dewa.

Rumah yang memiliki bentuk persegi panjang berdiri di atas tiang kayu unglen atau ulin ini memiliki luas bangunan kisaran 400 hingga 1.000 meter2  dengan tingkatan teras atau kijing menjadi simbol kelompok aau kasta keturunan kaum bangsawan, seperti Kemas, Ki Agus, Masagus. dan terakhir golongan Raden.

Beberapa peralatan yang menggambarkan sebuah tradisi adat tersimpan dengan rapi di rdalam umah limas ini, mulai dari perlengkapan isi rumah yang digunakan oleh kalangan bangsawan hingga tradisi lamaran pernikahan seperti misalnya menimbang tangan calon pengantin dengan Kitab Suci bahkan tempat tidur para bangsawan dengan tingkatan jurai berwarna warni di atasnya yang melambangkan tingkatan ekonomi mereka di kala masa Kesultanan Palembang.

Rumah limas ini pada awalnya berada di daerah Kecamatan Pemulutan Kabupaten Ogan Komering Ilir dimiliki oleh seorang warga yakni Pangeran Syarief Abdul Rahman Al Habsi, dan kemudian dibeli oleh Pangeran Kuto, pada tahun 1985 rumah limas ini dipindahkan ke kawasan Museum Balaputra Dewa Palembang.

Keberadaan rumah limas ini  tak hanya menjadi simbol Provinsi Sumatera Selatan yang tertera pada bagian gambar uang kertas pecahan ( Rp 10.000,00)sepuluh ribu rupiah oleh Bank Indonesia, tapi juga menjadi salah satu objek wisata sarat dengan nilai budaya dan sejarah, sehingga sangat sayang jika dilewatkan jika tengah berkunjung ke Kota Palembang.

Yusuf Ronodipuro, Pembaca Proklamasi Setelah Bung Karno yang Harus Mengorbankan Kaki Kirinya Cacat

Yusuf Ronondipuro, pasti asing mendengar namanya. Tapi lihat jasanya yang luar biasa, dia mengorbankan kaki kirinya cacat demi membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia melalui  siaran radio
Ada istilah yang bahwa Bung Karno adalah  sebagai Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, maka bisa dibilang juga Pahlawan kelahiran Kota Salatiga ini sebagai Penyambung Lidah Bung Karno bagi  rakyat Indonesia melalui peran dan perjuangannya.Tanggal 17 Agustus 2015 tepat usia 70 Tahun perjalanan hidup bangsa Indonesia. Setiap tanggal 17 Agustus kita selalu dan wajib  peringati sebagai hari kemerdekaan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jika kita berbicara tentang hari kemerdekaan maka banyak sekali peristiwa yang berkaitan dengan hari bersejarah tersebut, seperti misalnya bendera pusaka yang dijahit ibu Fatmawati, perjuangan melawan penjajahan Belanda dan Jepang, penculikan Bung Karno ke Rengasdengklok, pembacaan naskah Proklamasi, dan masih banyak peristiwa lainnya.Bung Karno merupakan tokoh utama dalam peristiwa Proklamasi tersebut, ia berperan sebagai pembaca naskah proklamasi pertama kali di depan umum yang dilakukan di kediamannya di Jln. Pegangsaan Timur no.56, Jakarta Pusat. Peristiwa pembacaan naskah proklamasi yang dibacakan oleh Bung Karno ini tidak disiarkan secara langsung oleh radio, sehingga praktis hanya masyarakat yang berkumpul di Jln. Pegangsaan Timur saja yang mendengar pembacaan Proklamasi secara langsung oleh Bung Karno. 
Yusuf Ronodipuro

Lalu bagaimanakah kabar Proklamasi kemerdekaan Indonesia bisa tersiar melalui radio dan bisa tersebar di wilayah Indonesia bahkan sampai didengar oleh Dunia Internasional? Siapa yang pertama kali membacakan naskah proklamasi pada siaran radio pada tanggal 17 Agustus 1945?

Jusuf Ronodipuro yang pertama kali membacakan naskah proklamasi pada siaran radio pada tanggal 17 Agustus 1945.

Yusuf Ronodipuro
Jusuf Ronodipuro seorang Pahlawan kelahiran Kota Salatiga pada tanggal 30 September 1919 akan menjadi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, ia bisa dikatakan sebagai penyambung lidah Bung Karno. Karena dari perjuangannyalah proklamasi kemerdekaan ini dapat didengar luas oleh masyarakat seluruh Indonesia dan Dunia dengan melalui siaran radio milik Jepang di Jakarta.  Pembacaan teks proklamasi pada pagi hari oleh Bung Karno tidak disiarkan oleh radio karena persiapan proklamasi yang sangat mendadak dan pada saat itu semua kantor pemancar radio dijaga ketat oleh Pemerintah Jepang sehingga tak heran jika berita Proklamasi Kemerdekaan belum secara cepat tersebar luas ke seluruh wilayah Indonesia.

Setelah peristiwa pembacaan naskah proklamasi oleh Bung Karno pada tahun 1945, Yusuf Ronodipuro pada saat itu masih berada di kantor Hoso Kyoku Jakarta (Radio Militer Jepang di Jakarta), karena memang ia bekerja di radio tersebut. Kemudian hari itu muncul Syahruddin dari kantor berita Domei yang sengaja masuk ke kantor Hoso Kyoku dengan cara meloncat dari tembok belakang kantor. Syahruddin pun kemudian bertemu dengan Jusuf Ronodipuro dan segera menyerahkan secarik kertas yang berisi pesan dari Adam Malik yang isinya “Harap berita terlampir disiarkan”, dan berita yang dimaksud dalam pesan tersebut adalah naskah proklamasi yang sudah dibacakan paginya pukul 10 pagi oleh Bung Karno. Setelah penyerahan pesan dari Adam Malik yang dibawa oleh Syafruddin tersebut, Yusuf Ronodipuro pun kemudian berunding dengan rekan-rekannya, salah satu diantaranya adalah Bachtiar Lubis (ayah sastrawan Mochtar Lubis) mengingat pada saat itu kantor Hoso Kyoku dijaga ketat oleh tentara Jepang.
Setelah perundingan selesai, Jusuf Ronodipuro memilih menggunakan ruang khusus siaran luar negeri yang ditutup Jepang pada tanggal 15 Agustus 1945, dan kebetulan ruang tersebut tidak dijaga. Setelah memasuki ruangan tersebut, Jusuf Ronodipuro pun mulai membacakan naskah Proklamasi sekitar pukul 19.00 ( pukul tujuh malam) selama 15 menit yang dibacakan didalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan Inggris. 
Jusuf Ronodipuro Mengorbankan Kaki Kirinya Demi Proklamasi
Hal ini dapat menggambarkan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 masyarakat Indonesia mendengar Proklamasi bukan dari suara langsung Bung Karno, melainkan masyarakat mendengar Proklamasi Kemerdekaan dari suara Jusuf Ronodipuro yang mengudara. Kegiatannya ini pada akhirnya diketahui oleh militer Jepang. Dan perjuangan Jusuf Ronodipuro beserta kawan-kawan pun harus dibayar mahal, Mereka langsungvditangkap dan dipukuli oleh Kempetei Jepang, lutut bagian kiri Jusuf Ronodipuro juga cacat akibat diinjak sepatu lars tentara. Perjuangan Jusuf Ronodipuro  dan kawan-kawan pada akhirnya membuahkan hasil, berita kemerdekaan Indonesia segera tersebar di Indonesia bahkan di Dunia.

Peristiwa ini bisa menyimpulkan bahwa pada saat peristiwa Proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan, tidak secara serempak seluruh wilayah Indonesia langsung mengetahui kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Namun tiap daerah mendengar kabar tersebut melalui proses dan waktu yang berbeda-beda, ada yang beberapa jam sesudah  pembacaan teks Proklamasi, bahkan ada yang beberapa hari sesudah peristiwa pembacaan teks proklamasi. Hal tersebut terjadi lantaran alat komunikasi pada waktu belum memadahi untuk menyebarkan berita dengan cepat ke seluruh penjuru negeri.

Jusuf Ronodipuro Pendiri Radio Republik Indonesia

Peranan Jusuf Ronodipuro sangat penting dalam peristiwa proklamasi, bahkan Pahlawan asli Salatiga inilah yang mendirikan RRI (Radio Republik Indonesia) dan slogannya yang hingga kini masih dipakai yaitu “Sekali di Udara Tetap di Udara”. 
Melalui RRI inilah,  pidato-pidato Bung Karno disiarkan ke seluruh penjuru negeri. Namun nama dan jasa Jusuf Ronodipuro dalam sejarah bangsa Indonesia memang kurang begitu dikenal, hal itu terjadi setelah dirinya terlibat didalam penandatanganan petisi 50 bersama tokoh penting negeri seperti Ali Sadikin, Kapolri Hoegeng, dl. Petisi tersebut ditujukan kepada pemerintahan Soeharto yang dianggap melenceng. Setelah peristiwa ini , nama-nama tokoh yang terlibat menjadi redup dalamsejarah perjuangan bangsa Indonesia, termasuk didalamnya nama Jusuf Ronodipuro.

Keberanian yang dilakukan Jusuf Ronodipuro tidak akan terlaksana jika tidak dilandasi dengan jiwa Nasionalisme dan kepedulian pada sesama bangsa Indonesia yang saat itu berada di bawah tekanan penjajahan. 
Dengan dasar tersebut Jusuf Ronodipuro pun berani untuk bertindak sekalipun nyawa taruhannya. Sikap seperti ini seharusnya dimiliki oleh bangsa Indonesia di masa kini, terutama para pemuda.
Semoga bermanfaat.